Sabtu, 01 Oktober 2011

Konser Burgerkill Ajang Pembuktian


SEKIAN lama tak menggelar konsef tunggal di kota kelahirannya, grup musik hardcore metal asal Bandung, Burgerkill sukses mengguncang sekitar sepuluh ribu penonton yang hadir pada perhelatan bertajuk "Djarum Super Konser Burgerkill Venomous Alive".
Para Begundal -sebutan penggemar Burgerkill-- ter-puaskan dengan suguhan sekitar 15 lagu yang disajikan Vicky (vokal), Eben (gitar), Agung (gitar). Ram-dan (bas), dan Andris (drum). Pada pertunjukan kali ini, Burgerkill dibantu Adam "Koil" yangmemainkan DJ set, Ariani3 "Seringai", dan Fadly "Padi". Konser yang berlangsung di Stadion Siliwangi, .Jln. Lombok Kota Bandung, Sabtu (24/9) itu juga menjadi ajang pembuktian bahwa pergelaran musik metal bisa berlangsung aman dan damai. Hampir sembilan puluh menit konser berlangsung, para Begundal yang kompak berpakaian hitam-hitam menikmati konser dengan nyaman. Mereka bebas moshing, pogo, dan headbanging selama pertunjukan berlangsung dengan tertib.
"Venomous Alive" dibuka
oleh Man Jasad, pentolan band Jasad ini mengajak para penonton untuk menikmati pertunjukan dengan tertib dan damai. Pada orasinya, Man Jasad mengatakan, konser Burgerkill kali ini adalah tumbal, karena jika konser ini bisa berlangsung aman, perizinan untuk menggelar konser metal lainnya akan lebih terbuka.
Setelah imbauan damai Man Jasad selesai, dua layar besar di sisi kanan dan kiri panggung memutar klip video "Only the Strong". Ini merupakan klip terbaru Burgerkill dari album terbaru mereka "Venomous" yang dirilis pada Juni lalu. Seusai tampilan klip video, satu per satu personel Burgerkill naik ke panggung. Panggung yang didominasi dekorasi warna hitam tersebut diguncang oleh "Age of Versus" yang dilanjutkan "Under the Scars".
Seusai menampilkan dua lagu, Vicky menyapa para Be-gundal terlebih dahulu. Dia mengatakan, Sabtu (24/9) sore itu merupakan saat yang bersejarah bagi Burgerkiil dan komunitasnya. "Ini pertama kali kami bikin konser akbar,jadi mari kita jaga sama-sama komunitas ini. Kita tunjukkan bahwa konser di Bandung adalah konser yang aman dan jauh dari anarkistis," ujar Vicky.
Setelah itu, raungan musik metal yang keluar dari tata suara yang apik kembali membahana ketika "Through the Shine" disajikan Eben dan kawan-kawan. Burgerkill tampaknya memang tak ingin banyak basa-basi, seakan ingin mengajak nostalgia, dua lagu berikutnya pun diambil dari dua album lawas milik mereka, yakni "Penjara Batin" dari album "Berkarat" (2003) serta "Shadow of Sorrow" dari album "Beyond Coma and Despair" (2006).
"Setelah sekian lama, akhirnya merasakan atmosfer yang luar biasa di Stadion Siliwangi. Lagu berikutnya kami persembahkan untuk teman-teman Viking dan Persib," kata Vicky yang mengantarkan lagu "For Victory". Setelah lagu untuk Persib berakhir, penampilan mereka dilanjutkan dengan "My Worst Enemy".
Vicky kembali menggelorakan perdamaian dalamkonser tersebut. Dia mengungkapkan, "Konser ini tidak gratis, jadi tidak akan menimbulkan anarkistis. Dengan kalian membayar, kalian menghargai musik Indonesia." Sebuah lagu dari "Beyond Coma and Despair", "Darah Hitam Kebencian" menjadi sajian Burgerkill selanjutnya.
Suasana haru kemudian tercipta saat dua layar besar menayangkan video yang menampilkan vokalis Burgerkill terdahulu Ivan "Scumbag" Firmansyah, yang meninggal dunia pada Juli 2006 lalu. Pada video tersebut ditampilkan proses pengerjaan lagu "Tiga Titik Hitam" yang melejit pada 2003 lewat album "Berkarat". Lagu itu menjadi istimewa karena dibawakan Ivan bersama Fadly, vokalis Padi.
Seusai pemutaran video, Vicky memainkan piano kemudian Fadly muncul di atas panggung dan membawakan Tiga Titik Hitam" yang disambut dengan bernyanyi bersama para Begundal. Momen ini terasa sangat istimewa, lagu Tiga Titik Hitam" ibarat anthem ("lagu kebangsaan") bagi para Begundal yang tidak boleh dilewatkan. "Lagu ini kita dedikasikan untuk almarhum
Ivan, kita jaga semangatnya. Kami yakin, sore ini dia hadir di tengah kita." ujar Vicky.
Sebelum menutup penampilannya. Burgerkill menyuguhkan single dari Venomous "Only the Strong". Setelah itu, vokalis band Seringai Arian 13 naik ke atas pentas dengan membawakan "Atur Aku" bersama Burgerkill.
Ditemui seusai tampil. Agung yang mewakili awak Burgerkill mengatakan, konser tersebut merupakan terobosan besar, karena mereka bisa berkonser di Stadion Siliwangi dengan kondisi aman dan lancar. Burgerkill berharap kesuksesan ini bisa diikuti oleh komunitas band metal lainnya.
"Bagi kami sendiri, ini konser tunggal kedua setelah yang pertama digelar pada tahun 2006 lalu. Maka jarak antara konser pertama dengan yang kedua juga cukup lama," ujar Agung.
Semoga setelah "Venomous Alive", scene musik hardcore dan metal di Kota Bandung bisa kembali leluasa untuk menggelar konser, sebagai bentuk ekspresi dan apresiasi para penggemar mereka

Gelaran dan Ajang Kumpul Sebelum Konser Linkin Park di Indonesia


Pada 21 September ini Indonesia kembali kedatangan sebuah band nu-metal atau alternative rock besar dari negeri Paman Sam, Amerika. Siapa lagi jika bukan Linkin Park. Band yang terakhir kali datang ke Indonesia pada tahun 2004 ini akan menggelar konser bertajuk "A Thousand Suns World Tour" pada 21 September 2011 di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Dan akan kembali tampil di depan ribuan penggemar setianya di Indonesia. Atas dasar itulah Rise Your Glory event organizer mengadakan sebuah acara yang bertajuk One Step Closer: A Tribute to Linkin Park, dengan bekerjasama dengan Big Daddy sebagai promotor yang mengundang Linkin Park untuk datang ke Indonesia.

Acara yang diadakan 10 September 2011 kemarin dan bertempat di Fame Station Bandung ini, digelorakan oleh band-band pengisi seperti Xero Theory, Abstrax, Lithium, Caliber, Longroad To Scholl feat Wesi ‘Aiken’ & Odas ‘Putihitam’, Springfield, For Revenge feat Ebith Beat*A, dan di puncak acara tampil Linkin Park All Star (band  yang beranggotakan personil-personil dari band-band Bandung seperti Diaz Killaz ‘Volta’, Lingga ’13th Public’, Adhit ‘Signals’, Doyz ‘Signals’, Guggie ‘Kinetik’, Dimas ‘Kinetik’ dan Igo ‘Glory of love’).

Selain diisi oleh penampilan dari band-band yang telah disebutkan, acara ini sendiri bertajuk gathering and live music, maka pada malam itu acarapun dihadiri oleh para penggemar atau fans Linkin Park di Indonesia, seperti Linkin Park Fans Indonesia, Linkin Park Indonesia dan juga penggemar Linkin Park dari daerah-daerah lainnya. Sebagai sarana dan ajang untuk lebih saling kenal dan bertukar informasi bagi para penggemar Linkin Park di Indonesia. Di malam itu juga ada dua tiket yang dibagikan secara gratis bagi 2 orang pengunjung yang beruntung.

Sebagai acara pemanasan sebelum Linkin Park datang pada 21 September, acara ini memang benar-benar membuktikan bahwa musik nu-metal atau alternative rock khususnya Linkin Park masih memiliki tempat di hati para penggemarnya. Terlihat dari antusiasme para penonton yang hadir di acara One Step Closer: A Tribute to Linkin Park 10 September kemarin terbilang ramai. Menjadi sebuah gelaran yang lebih memperat ikatan sesama penyuka musik nu-metal atau alternative rock khususnya Linkin Park secara langsung. Dan selanjutnya bersiaplah untuk menyambut konser Linkin Park tidak lama lagi di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta.


Burgerkill Membius Begundal Lewat Konser Tunggal “Venomous Alive”


Burgerkill Membius Begundal Lewat Konser Tunggal “Venomous Alive”
Sang vokalis Vicky turun dikerumunan Begundal

Setelah sukses dengan konser pertama mereka pada tahun 2006 lalu, Burgerkill kembali menggelar konser tunggal bertajuk “Venomous Alive” di Stadion Siliwangi Bandung, Sabtu 24 September 2011. Konser ini sebelumnya akan digelar bulan Juli kemaren, namun dikarenakan Stadion Siliwangi masih dalam tahap renovasi, konser ini urung di gelar.

Konser kali ini benar-benar dipersiapkan panitia 'Aikon Creative Expert' dengan sangat matang. Pengamanan super ketat diterapkan panitia dan pihak keamanan mulai dari kawasan sekitar Stadion Siliwangi, pintu masuk sampai ke arena moshpit. Tak tanggung, Pihak Kepolisian dan TNI menerjunkan sekitar 800 lebih pasukan untuk mengamankan konser ini. Selain dari pihak keamanan tersebut, para Begundal juga turut andil untuk mengamankan area moshpit.

Para Begundal yang berasal dari berbagai daerah mulai memadati loket pembelin dan penukaran tiket sejak pukul 12.00 siang. Meskipun menurut panitia, pintu masuk akan di buka pukul 2 siang dan konser baru akan digelar setelah pukul 3 sore. Namun, para Begundal mulai berdatangan sejak siang hari. Hal ini menyebabkan terjadi antrian yang sangat panjang di sektor barat dan timur pintu masuk Stadion Siliwangi.

Setelah sekitar 6000 lebih para Begundal memadati Stadion Siliwangi, Man 'Jasad' membuka konser kali ini dengan orasi dan himbauan bagi semua yang hadir. Dikatakannya, konser ini menjadi satu ajang pembuktian bagi komunitas undergroundKota Bandung. Beliau mengatakan, untuk semua yang hadir di Stadion Siliwangi dapat menjaga keamanan, mulai dimulainya acara hingga selesai.

Setelah imbauan dari Man 'Jasad' selesai, dua layar besar yang terpapang megah di sebelah kanan dan kiri stage, diputar untuk pertama kalinya video klip lagu Only the Strong. Video klip ini merupakan yang terbaru dari salah satu lagu mereka dalam album terbaru 'Venomous' yang dirilis bulan Juli lalu. Tanpa memberi ruang jeda yang lama, setelah pemutaran video klip silih berganti Punggawa Burgerkill mulai memasuki stageyang di dekorasi begitu fantastis. Mereka langsung menghentak ribuan Begundal dengan Age of Versus dan Under the Scars.

Setelah dua lagu pertama selesai, Vicky sang vokalis menyapa para Begundal. “Kita sangat senang bisa kembali bermain di Kota Bandung,” ujarnya. Tak lama setelah menyapa para Begundal, lagu ketiga menggemparkan seisi Stadion Siliwangi. Kali iniThrough the Shine membakar emosi para Begundal di area moshpit.

Sepertinya Burgerkill tidak ingin banyak basa basi. Lagu selanjutnya dari album terdahulu mereka Penjara Batin dan Shadow of Sorrow membuat para Begundal melakukan moshing, pogo dan headbanging. Sementara diluar area moshpit, para Begundal terlihat sangat menikmati konser yang diprediksi dipadati sekitar 10.000 penonton itu.

Lagi! Tak ada jeda, kini Burgerkill mengajak para Begundal untuk ugal-ugalan dengan For Victory. Sebelumnya, Vicky mengatakan bahwa lagu ini didedikasikan untuk Persib dan supporternya, Viking. Selanjutnya, My Worst Enemy semakin membuat atmosfir Stadion Siliwangi memanas dengan circle pit dari para Begundal.

Vicky sang vokalis kembali memberi jeda tak lama. “Konser ini tidak gratis. Maka jangan menimbulkan anarkis, dengan kalian membeli tiket, kalian telah menghargai musik Indonesia,” ujarnya singkat. Setelah melakukan solo dari setiap personilnya, kini sajian apik selanjutnya dari Burgerkill. Di ambil dari album “Beyond Coma and Despair” yeaaaaah!, Darah Hitam Kebencian.

Hampir satu jam para Begundal dibuat gila dengan lagu-lagu keras yang keluar dari sound yang sangat apik, kini mereka di buat termenung dan haru. Sebuah dedikasi untuk mengenang Alm. Ivan Scumbag, vokalis Burgerkill terdahulu. Kini dua layar besar memutar film dokumenter Almarhum. Terlihat jelas ribuan Begundal merasakan getaran dahsyat dari sosok fenomenal tersebut. “Kita yakin Alm. Ivan Scumbag berada di tengah-tengah kita,” ujar Vicky.

Setelah pemutaran film dokumenter selesai, Vicky mulai menarikan jari-jemarinya di atas sebuah keyboard. Lantunan kelam yang dimainkannya, mengiringi Fadly 'Padi' untuk masuk ke stage dan mulai menyanyikan Tiga Titik Hitam. Koor para Begundal yang bernyanyi bersama menambah suasana yang gemuruh luar biasa.

Vicky, Ebenz, Agung, Andris dan Ramdan menyulut energi dari para Begundal. Sebelum menutup penampilannya, mereka membawakan single dari album terbarunya “Venomous”, Only the Strong. Kembali, arena moshpit semakin liar dan tak terkendali.

Sampai di ujung penampilannya, Burgerkill kali ini menitikdidihkan suasana dengan berkolaborasi dengan Arian13 'Seringai' untuk membawakan lagu Atur Aku. Arian13 dengan penampilannya yang selalu khas dengan ikatan syal dikepalanya, mengajak para Begundal untuk membuat circle pit. Hal ini direspon para Begundal di area moshpitdengan penuh tenaga. Semakin liar! Semakin gila!

Setelah acara selesai, apresiasi tinggi untuk Burgerkill ditunjukan ribuan Begundal dengan mengacungkan 3 jari ke atas udara. Ditemui seusai acara selesai, Ramdan sang bassis mengatakan bahwa konser kali ini sangat berkesan karena berjalan lancar sesuai dengan diharapkan. “Sebenarnya kita ingin menunjukan bahwa komunitas kita masih tetap eksis dan melanjutkan perjuangan dengan damai. Semoga dapat lebih dimudahkan lagi dalam semua hal yang diimpikan oleh komunitas ini dalam bentuk apapun yang positif,” ujarnya.

Yeah! Sebuah konser tunggal sepektakuler dari Burgerkill yang mampu membius ribuan pecinta musik underground di tanah air. Keep indies metal motherfucker!!!

Konser Pertama Burgerkill di Kota Bandung


Setelah sebelumnya (16 Juli) di gelar di Bulungan Jakarta, kini giliran Stadion Siliwangi, Bandung yang menjadi tempat untuk Burgerkill menggelar konser tunggal, Venomous Alive.
Pertunjukan live yang merupakan sesi khusus dari launching album terbaru, Venomous ini merupakan konser pertama bagi band yang saat ini diperkuat oleh Vicky (vokal), Eben (Gitar), Agung (gitar), Ramdan (bass) dan Andris (drum) di kota Bandung.
Venomous Alive dibuka oleh Man Jasad sekitar pukul 15:36 WIB,  bersama pemutaran video terbaru Burgerkill, Only The Strong dan dilanjutkan oleh kemunculan satu persatu personel yang diiringi sambutan riuh crowd. Burgerkill memulai konsernya pada petang yang memang cerah, dengan beberapa nomor baru seperti Through The Shine (track pertama dibuat untuk album Venomous) dan For Victory.
“Hari ini sangat bersejarah, karena ini pertamakalinya Burgerkill konser di Bandung,” ungkap Vicky yang kembali disusul oleh beberapa nomor Venomous, Only The StrongHouse of GreedUnder The Scars danMy Worst Enemy.
Konser ini dirasa akan menjadi momen bersejarah juga untuk fans yang dapat merasakan langsung band indolanya berubah, mulai materi termasuk semua tema depresi yang beralih ke tema yang cenderung marah dan bangkit.
Venomous sendiri merupakan album studio pertama Burgerkill dengan vokalis baru Vicky, yang menjadi “perwujudan” dari era baru mereka, atau bisa dibilang “hasil” dari masa peralihan Burgerkill setelah meninggalnya vokalis kharismatik mereka Ivan Firmansyah.
Karakter vokal free style Vicky yang saat ini menjadi sentral Burgerkill, memungkinkan 4 instrumen lain lebih bebas eksplorasi pada susunan lagu, terutama divisi Gitar (Eben & Agung) yang menampilkan distorsi berat, rhythm section cepat dan rapat, bersama ketukan ganjil dengan tempo up beat, yang terus membuka diri terhadap elemen lain mulai dari death metal, heavy metal sampai neo metal, selain itu Venomous menampilkan juga groove dan beberapa sisi yang melodius, seperti pada nomor Only The Strong & For Victory yang merupakan track variatif album ini. Ya, itulah Burgerkill sekarang, terdengar optimis dengan tawaran sesuatu yang lebih kasar dan teknikal baik dari instrumen, vokal, lirik maupunsound, yang seakan menegaskan pengalaman mereka dan kemampuan instrumen.
Selain nomor baru, pada konser ini Burgerkill menampilkan juga beberapa nomor andalan dari album era vokalis Ivan, seperti Rendah yang diambil dari album Dua Sisi (2000), Penjara BatinTiga Titik Hitam albumBerkarat (2003) dan beberapa nomor unggulan Beyond Coma And Despair (2006) yaitu Shadow Of Sorrow,Darah Hitam Kebencian dan Anjing Tanah.
Babak berbeda pada konser ini adalah di saat sebelum Tiga Titik Hitam dimainkan, Burgerkill menampilkan dokumentasi video mendiang Ivan firmansyah yang mungkin akan tersasa emosional bagi siapapun yang mengenal ataupun yang menyimak karya dia. Dilanjutkan permainan piano Viki, yang disusul kemunculan Fadly ‘Padi’ yang memang bernyanyi untuk nomor ini, sesi ini membuat atmosfer Stadion Siliwangi berubah diringi choir campuran dari para begundal (fans Burgerkill) yang mengumandangkan karya ini.
Konser Burgerkill Venomous alive berakhir sekitar 17:20, Dengan menampilkan Arian 13 lewat nomor legendaris Puppen, Atur Aku. [eka]

Burgerkill Guncang Stadion Siliwangi

Sekitar sepuluh ribu anak muda berkaos hitam yang juga banyak kalangan bobotoh Persib penuhi lapangan sepakbola Stadion Siliwangi, Sabtu (24/9) sore. Mereka tampak antusias menyaksikan grup band underground asal Bandung, Burgerkill yang diusung dalam even Djarum Super Konser Burgerkill "Venomous Alive".

Konser tunggal yang sekaligus mengusung album terbarunya atau album ke-4 itu langsung melesatkan nomor pembukanya dengan lagu berjudul Age of Versus. Para fans berat Burgerkill yang disebut 'begundal' pun langsung pula menyambutnya dengan teriakan dan jingkrakan sambil bergerak ke sana ke mari. 

Begitu pula saat nomor kedua "Under The Scars" dinyanyikan, pergerakan para begundal di tengah ribuan penonton lainnya tampak begitu penuh semangat. Berbenturan badan dan saling sikut pun tak bisa dielakan antar 'begundal'. Tapi uniknya meski saling beradu fisik saat berjoget, mereka tak ada satupun yang emosi hingga menimbulkan keributan. Setiap kali musik hingar bingar menyalak, gerakan dan adu fisik terjadi, tapi begitu musik berhenti aksi goyangan para 'begundal' pun berhenti.

Grup band 'metal brutal' yang digawangi Vicky pada vokal, Eben pada gitar, Agung pada gitar, Ramdan pada bas, dan Andris pada drum itu membawakan sekitar 15 lagu itu berlangsung aman tanpa ada peristiwa keributan atau anarkis. Pergelaran yang dimulai sejak pukul 15.30 hingga 17.00 itu berlangsung lancar. Padahal, selain para 'begundal'-nya yang pakai kaos hitam, setting panggung pun dibuat hitam, seram.

Selain semua nomornya mendapat sambutan heboh dari para 'begundal', mereka pun mengusung satu nomor berjudul 
'Tiga Titik Hitam' bersama bintang tamu Fadli 'Padi'. Para "begundal" pun tetap menyambut dengan kehebohan yang sama. Kehebohan para begundal berlangsung sampai pertunjukan usai yang ditutup dengan nomor Atur Aku.

"Ini memang suatu terobosan besar. Kami bisa konser di Stadion Siliwangi dengan kondisi alhamdulillah aman dan lancar," kata Agung sang gitaris Burgerkill saat ditemui seusai pergelaran, Sabtu (24/9).

Diharapkannya kesuksesannya bermain di Stadion Siliwangi yang dulu menjadi lokasi konser untuk band-band besar itu bisa diikuti oleh komunitas dan band-band ternama lainnya. 
"Bagi kami sendiri ini konser tunggal kedua setelah yang pertama digelar pada tahun 2006 lalu. Maka jarak antara konser yang pertama dengan yang kedua juga cukup lama," ujarnya. 

Sementara Herman Sutanto, Manager Marketing Services mengatakan keberanian pihak Djarum mendukung penuh konser band underground di Stadion Siliwangi merupakan sudah menjadi idealismenya. Sehingga bisa menjadi bukti untuk pergelaran ke depan, bahwa konser metal pun bisa aman. 

"Sebetulnya baik Djarum maupun Burgerkill sudah sepakat kalau jadi konser harus di Siliwangi, kalau tidak di Siliwangi maka konser batal. Untungnya aparat keamanan ternyata mengizinkan, dan ternyata ini bisa aman, dan ini menjadi suatui bukti," kata Herman saat ditemui wartawan seusai pergelaran.
 (

Burgerkill Sudah Melunasi Semua Kewajiban


MEREKA SUDAH LAYAK DITAHBISKAN SEBAGAI BAND TERBAIK DI TANAH AIR. DAN KEMARIN MEREKA BARU SAJA MELUNASI SEBUAH KEWAJIBAN PENTING.
GOD DAMN… konser itu tidak meleset satu derajat pun dari ekspektasi. Konsep yang digodok dengan sangat anjrittt menghasilkan suguhkan yang anjrittt pula. Histeria massal terus menggelora dari lagu ke lagu. Kaki para begundal pun seperti dipaku di atas rumput Stadion Siliwangi ketika Vicky, Eben, Agung, Ramdhan, dan Andris, menyudahi Venomous Alive tepat ketika jarum jam menjejak di titik 17.30 WIB, Sabtu (24/9) itu. Sebagian dari mereka masih bertahan sampai hari habis ditelan malam, padahal seluruh personel Burgerkill sudah lama menghilang dari atas panggung.
Apa mau dikata, Burgerkill memang sudah lama dikenal sebagai biang kesempurnaan. Mereka seolah-olah tidak pernah membikin sesuatu yang tidak bagus. Album Venomous adalah sebuah katarsis yang sangat elegan untuk menanggalkan identitas lama Burgerkill yang amat lekat dengan sosok Ivan Scumbag, dan bersulih jadi Burgerkill baru yang tidak kalah keren. Dan, suguhan mereka dalam balutan Venomous Alive di Stadion Siliwangi itu boleh diibaratkan sebuah ejakulasi maksimal dalam rangkaian morse seksualitas sejak album pertama itu baru serupa rumor sampai mengejawantah jadi bentuk kepingan CD.
Tentu saja Burgerkill teramat layak merasa puas dengan ejakulasi yang mereka alami di atas rumput Stadion Siliwangi petang itu. Dan pula semua yang hadir, termasuk orang tua dan keluarga besar masing-masing personel. Sebab, dengan Venomous Alive, Burgerkill telah menunaikan satu kewajiban penting sebagai sebuah band besar, yakni menggelar konser tunggal.
Tidak ada sedikit pun spasi yang membuat Venomous Alive harus mendapat kredit negatif. Sebab, kalaupun ada, itu pasti bakal tertutupi oleh aksi tuntas Burgerkill selama dua jam lebih. Penonton seperti merasa masih lapar ketika Burgerkill menyuguhkan santapan terakhir berupa kolaborasi anjisss dengan Arian 13 saat membawakan lagu Atur Aku. Dan itulah tanda-tanda bahwa apa yang mereka sajikan — jika diibaratkan sebuah pesta jamuan makan —- semuanya serba lezat.
Dengan Venomous Alive barangkali Burgerkill tak perlu lagi melakukan apa pun untuk tetap mempertahankan imej mereka sebagai band metal terbaik sepanjang masa di negeri ini. Namun, bukan Burgerkill jika merasa puas dengan apa yang mereka genggang hari ini. “Tentu saja kami sangat sangat sangat puas dengan pencapaian ini. Tapi, kami tidak akan berpuas diri,” ucap Eben usai konser.
Eben kemudian menuturkan sejumlah mimpi yang bakal mereka rajut setelah merilis Venomous dan menggelar ritual istimewa dalam rangka peluncuran album tersebut. Salah satunya ingin mengembangkan sayap Burgerkill jadi band internasional. “Mungkin sudah waktunya kita memikirkan sesuatu yang lebih besar lagi. Kami ingin juga diakui di dunia yang lebih luas,” imbuh Eben.
Lho bukankah selama ini mereka sudah pernah menggelar tur Asia Tenggara dan mengecap panggung internasional seperti Soundwave Festival 2009 serta Big Day Out 2010 di Australia? “Belum! Kami belum puas dengan itu. Kami ingin juga merambah Eropa dan Amerika. Dan kami merasa mampu untuk melakukannya. Hidup itu harus rock n roll, brader. Jika kita tidak merasa yakin dengan kemampuan kita, maka kita tidak akan bisa meraih apa yang kita impikan,” sembur Eben lagi.
SEBUAH PENTAHBISAN
Lalu apa makna paling penting Venomous Alive buat Burgekill? Yeahhh… sosok ini adalah orang paling tepat untuk dijadikan tempat bertanya: Arian 13. Mantan vokalis Puppen yang sekarang mengibarkan penjor Seringai ini termasuk salah satu orang yang ada di samping Burgerkill sejak band ini meniti karir. Tapi, Arian tetaplah ‘orang luar’ yang bisa menyodorkan perspektif lebih obyektif mengenai Burgerkill hari ini, khususnya untuk album Venomous dan Venomous Alive.
“Di mata saya Burgerkill adalah band goreng patut! Sudah itu saja!” ungkap Arian. “Hahahaha… heureuy bray!” tambah Arian sambil tergelak.
Di mata Arian, Burgerkill sudah memenuhi seluruh aspek untuk ditahbiskan sebagai salah satu band metal terbaik di tanah air. “Apa mau dikata, mereka sudah memiliki dan melakukan semuanya sebagai sebuah band,” cetus Arian.
Kalaupun ada yang harus dikritik, menurut Arian, adalah soal waktu pencapaian tersebut. “Dari dulu saya sudah yakin Burgerkill akan jadi band besar. Tapi seharusnya mereka sudah mencapai apa yang mereka gapai hari ini ketika umur Burgerkill menginjak bilangan ketujuh. Bukan 16 tahun seperti sekarang,” papar Arian.
Namun, Arian bisa mentolerir urusan waktu tersebut. Sebab, lanjut Arian, ada sejumlah variabel yang membuat Burgerkill baru bisa mencapai level kesuksesan ketika menginjak usia 16 tahun. “Kita tahu sendiri bagaimana sikap lingkungan kita terhadap band-band seperti Burgerkill. Andai saja Burgerkill tumbuh di habitat yang mampu memberikan dukungan lebih baik, mereka sudah mencapai level kesuksesan seperti ini sepuluh tahun lalu. Masih untung juga Burgerkill punya kekuatan luar biasa untuk menyiasati seluruh persoalan tersebut dan hari ini mereka mencapai titik seperti ini,” terang Arian.
Jika Burgerkill sudah memiliki dan melakukan semuanya, lalu apa lagi yang harus mereka perbuat di hari esok? “Secara musik mereka tetap harus melakukan perubahan. Tentu saja bukan dalam rangka kompromi, melainkan untuk sebuah tuntutan progres. Sebab bagaimanapun perubahan adalah progres,” tandas Arian.

Burgerkill Venomous Alive


Konser tunggal Burgerkill Venomous Alive sukses besar! mereka berhasil membuktikan kepada para petinggi-petinggi di Jawa Barat dan Bandung khususnya bahwa konser musik metal itu aman dan tidak identik dengan kerusuhan seperti yang mereka kira selama ini. Dibuktikan dari awal sampai akhir selama pertunjukan berlangsung aman dan tertib. Belasan ribu penonton bermoshing, berslamming sebebasnya tetapi mereka tau aturannya dan Sixletter memberikan dua jempolnya karena mereka semua telah bersikap dewasa. Digebernya 16 lagu dengan jeda waktu yang sedikit, benar-benar menguras energi baik yang perform maupun penonton, tetapi hasil akhirnya semua terpuaskan! Diawal, telinga penonton langsung dihajar oleh lagu “Age of Versus” yang memang berskil tinggi. Burgerkill sendiri dibantu oleh Adam Koil diposisi sampling, Fadli Padi yang membawakan lagu” Tiga Titik Hitam” tampil sangat memukau, membuat merinding semua yang mendengarkan dan bahkan ada yang menangis terharu. Ditutup oleh lagu “Atur Aku” milik Puppen yang dinyanyikan bareng Arian Seringai yang juga ex vokalis Puppen. Banyak kejutan yang dihadirkan di event yang disponsori oleh salah satu perusahaan rokok terbesar di negara ini, seperti adanya booth khusus pameran fotografi Burgerkill oleh Indra Permana, dan pemutaran perdana video klip terbaru yang sangat menjual banget, Only The Strong. Semoga dengan melihat kenyataannya seperti ini mereka semua (petinggi.red) dapat mempermudah kembali berlangsungnya acara-acara musik seperti ini di Bandung. Testimoni hasil akhirnya…MANTAP!